Java sebagai bahasa pemrograman aplikasi bisnis enterprise menawarkan begitu banyak ragam alternatif solusi yang beberapa di antaranya sudah mencapai taraf kematangan yang cukup baik terutama untuk kebutuhan aplikasi berbasis multi-tier, sebut saja TopLink yang saat ini menjadi standar persistent API di java, kemudian Spring, Atomikos, dan begitu banyak lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu dalam blog ini. Java juga menarik digunakan sebagai sarana pemasaran karena plethoria-nya yang begitu luas. Sementara itu Delphi, khususnya untuk digunakan sebagai bahasa pemrograman untuk middleware belum memiliki ragam pilihan seperti yang terdapat di Java, namun demikian, karena sifatnya sebagai native code, Delphi memungkinkan kita membuat middleware server yang memiliki performa dan stabilitas yang mengungguli middleware sejenis yang dibuat dengan menggunakan Java.
Ragam solusi yang terdapat di java sangat menarik dan terlalu sayang untuk tidak dimanfaatkan, namun permasalahannya, bagaimana jika kita sudah memiliki sebuah middleware server yang dibangun dengan delphi? Memportingnya ke java jelas bukanlah sebuah solusi yang mudah karena itu bisa berarti menulis ulang keseluruhan sistem dari awal. Solusi yang paling memungkinkan tentunya adalah menginterfacekan middleware server yang dibuat dengan delphi tersebut dengn Java, dengan kata lain meng-embbed java virtual machine ke dalam middleware server Delphi sehingga memungkinkan kita memanfaatkan java dalam sistem yang kita buat dengan menggunakan Delphi.
(more…)
Salah satu yang tidak saya sukai dari kebiasaan hidup orang semarang adalah mereka umumnya suka sekali membuang tikus ke jalan. Yang saya tenggarai di sini tikus tersebut bukanlah tikus korban tabrak lari, melainkan tikus-tikus yang entah mati karena perangkap, ditembak (orang semarang terkadang lebih suka berburu tikus dgn senapan angin ketimbang burung), atau tikus-tikus yang sengaja diracun. Sepertinya ketimbang membuangnya di tempat lain atau menguburnya, warga lebih suka melemparnya ke jalan.
Sudah lama sekali saya mendengar, atau mungkin lebih tepatnya membaca (hanya saja saya lupa sumbernya dari mana) bahwa memperdengarkan musik bagi anak-anak sejak dini dapat menstimulasi kreativitas, kecerdasan, dan perkembangan otak anak. Seorang rekan yang memang berprofesi sebagai musisi pernah menyarankan saya bahwa sebaiknya hal ini dilakukan bahkan sejak bayi masih dalam kandungan, karena meski masih dalam kandungan, sejak usia 10-12 minggu ke atas, janin telah dapat mendengar dan memberikan reaksi terhadap suara-suara yang didengarnya.
My name is
Perhatian: Informasi yang terdapat disini bener-bener hanya merepresentasikan cerita, pengalaman, ataupun pandangan yang merupakan opini pribadi dari saya sebagai ego. Segala hal yang bersifat pandangan ke depan sebenarnya lebih bersifat spekulatif dan bisa saja berobah meski saya bukan bunglon.