J.a.i.m’s Diary

Interfacing Delphi dan Java

Java sebagai bahasa pemrograman aplikasi bisnis enterprise menawarkan begitu banyak ragam alternatif solusi yang beberapa di antaranya sudah mencapai taraf kematangan yang cukup baik terutama untuk kebutuhan aplikasi berbasis multi-tier, sebut saja TopLink yang saat ini menjadi standar persistent API di java, kemudian Spring, Atomikos, dan begitu banyak lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu dalam blog ini. Java juga menarik digunakan sebagai sarana pemasaran karena plethoria-nya yang begitu luas. Sementara itu Delphi, khususnya untuk digunakan sebagai bahasa pemrograman untuk middleware belum memiliki ragam pilihan seperti yang terdapat di Java, namun demikian, karena sifatnya sebagai native code, Delphi memungkinkan kita membuat middleware server yang memiliki performa dan stabilitas yang mengungguli middleware sejenis yang dibuat dengan menggunakan Java.

Ragam solusi yang terdapat di java sangat menarik dan terlalu sayang untuk tidak dimanfaatkan, namun permasalahannya, bagaimana jika kita sudah memiliki sebuah middleware server yang dibangun dengan delphi? Memportingnya ke java jelas bukanlah sebuah solusi yang mudah karena itu bisa berarti menulis ulang keseluruhan sistem dari awal. Solusi yang paling memungkinkan tentunya adalah menginterfacekan middleware server yang dibuat dengan delphi tersebut dengn Java, dengan kata lain meng-embbed java virtual machine ke dalam middleware server Delphi sehingga memungkinkan kita memanfaatkan java dalam sistem yang kita buat dengan menggunakan Delphi.
(more…)

Kebiasaan Orang Semarangan yang Buruk

TikusSalah satu yang tidak saya sukai dari kebiasaan hidup orang semarang adalah mereka umumnya suka sekali membuang tikus ke jalan. Yang saya tenggarai di sini tikus tersebut bukanlah tikus korban tabrak lari, melainkan tikus-tikus yang entah mati karena perangkap, ditembak (orang semarang terkadang lebih suka berburu tikus dgn senapan angin ketimbang burung), atau tikus-tikus yang sengaja diracun. Sepertinya ketimbang membuangnya di tempat lain atau menguburnya, warga lebih suka melemparnya ke jalan.

Salah satu alasan yang sering saya dengar adalah, tikus yang dibuang di jalan akan hancur digilas oleh kendaraan yang lewat, mengering diterpa panasnya matahari dan aspal jalan, dan tidak menimbulkan bau menyengat yang mengganggu warga sekitar. Selintas sepertinya itu adalah cara praktis dan efektif.

Permasalahannya apakah setelah itu selesai begitu saja? Bangkai tikus yang mengering dan hancur itu meski tidak menimbulkan bau tapi menimbulkan permasalahan baru, serpihan bangkai tikus yang mengering itu akan terbang diterpa angin, menyebar ke lingkungan sekitar, dan pada akhirnya dihirup oleh warga sekitar, sehingga berpotensi menjadi media penyebaran penyakit. Selain itu pula bangkai tikus di jalan sungguh mengganggu pemandangan para pengendara yang lewat, merusak keindahan lingkungan, coba banyangin, lingkungan udah bagus, tertata rapi, dan bersih, dikotori oleh seonggok bangkai tikus di tengah jalan. :(

Membuat Aplikasi Modular secara Dinamis

Aplikasi yang bersifat modular sebenarnya tidaklah asing saat ini, dengan memecah kompleksitas software ke dalam sejumlah modul akan memudahkan developer memaintain lifetime aplikasi yang dibuatnya secara lebih baik, hal ini karena developer dapat lebih memfokuskan permasalahan pada modul-modul yang ada. Delphi secara RAD sebenarnya sudah mempermudah developer untuk menyusun aplikasi ini sebagai modul-modul yang disusun baik dengan memanfaatkan TDataModule ataupun TForm. Namun seringkali pula kita terjebak dalam proses pangil memanggil modul satu dengan modul yang lain yang biasanya dilakukan secara langsung seperti contoh berikut:


  with TForm2.Create(Self) do
  try
    ShowModal;
  finally
    Free;
  end;

Tidak salah sebenarnya, namun proses panggil memanggil seperti ini menjadikan aplikasi menjadi kompleks, karena modul pemanggil sebagai aplikasi utama harus menyertakan pula unit atas modul-modul yang akan dipanggil. Program berskala yang lebih besar semacam dan kompleks akan melibatkan puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan modul di dalamnya, apakah untuk program semacam ini semua modul tersebut harus disertakan? tentunya akan lebih baik bila modul-modul itu dapat dipanggil secara dinamis dan otomatis oleh pemanggil dengan mudah. Kita cukup membuat modulnya, meregistrasikannya, dan recompile. Aplikasi utama akan secara otomatis menampilkan modul baru tersebut. :)

Dynamic modular application

(more…)

Musik Klasik Sebagai Stimulan pada Janin

Sudah lama sekali saya mendengar, atau mungkin lebih tepatnya membaca (hanya saja saya lupa sumbernya dari mana) bahwa memperdengarkan musik bagi anak-anak sejak dini dapat menstimulasi kreativitas, kecerdasan, dan perkembangan otak anak. Seorang rekan yang memang berprofesi sebagai musisi pernah menyarankan saya bahwa sebaiknya hal ini dilakukan bahkan sejak bayi masih dalam kandungan, karena meski masih dalam kandungan, sejak usia 10-12 minggu ke atas, janin telah dapat mendengar dan memberikan reaksi terhadap suara-suara yang didengarnya.

Namun apakah memang benar memperdengarkan musik klasik bisa menjadi stimulan atas kecerdasan bayi, terutama pada bayi yang masih dalam kandungan? Saya mencoba mengumpulkan informasi-informasi yang dapat dipercaya dan ternyata pembuktian atas hal itu hingga saat ini masih menjadi perdebatan.

(more…)

Apa itu Organic Software

Dua kata itu pertama kali saya menemukannya saat mengunduh perambah Firefox 3.0, dalam hati saya bertanya-tanya, maksudnya organic software itu yang bagaimana? saat keingintahuan itu tidaklah begitu besar, saya melewatkannya begitu saja. Namun ternyata di waktu-waktu lain, kadang dua kata itu terlintas begitu saja menggelitik pikiran saya, tidak mungkin firefox dibuat dengan menggunakan bahan-bahan organik (emang pupuk), begitu juga kalau dilihat dari keterlibatan unsur organik di dalamnya (manusia), lantas pastinya semua perangkat lunak yang lainnya pun melibatkan campur tangan manusia juga.

Lah terus apa yang dimaksud dengan organic software tersebut? pupuk jelas bukan, bio-teknologi juga bukan. Setelah menyempatkan untuk mencari-cari sebentar akhirnya saya menemukannya juga maksudnya:

We use the term ‘organic software’ to sum up the various ways we’re different from the other guys.
What is organic software?

Walah… mau bilang unik aja repot bener, kalau nggak bikin orang mikir dulu baru ngeh itu kayaknya kurang afdol sepertinya. :)

« Older Posts
 

About Me

Jaimy Azle My name is
Jaimy Azle, hufflepuff, I am a software developer with Delphi and C/C++ as major programming language. Living in Ungaran, Jawa Tengah.

Search

Categories:

Tag Cloud

Friends

Interests

Archives:

Meta:


Get Firefox!
Perhatian: Informasi yang terdapat disini bener-bener hanya merepresentasikan cerita, pengalaman, ataupun pandangan yang merupakan opini pribadi dari saya sebagai ego. Segala hal yang bersifat pandangan ke depan sebenarnya lebih bersifat spekulatif dan bisa saja berobah meski saya bukan bunglon.