Kekasih
Di manakah kau kini, kekasihku?
Apakah kau terjaga di malam hening,
Menantikan angin sepoi basah
Yang akan membawa debaran hati dalam pikiran
Yang bernas
Ke arahmu?
Atau, memandangi lukisan cinta remaja mu?
Lukisan itu tak lagi menyerupai yang dilukiskan.
Karena kesedihan membalut bayangannya
Pada seraut wajah kegembiraan hari kemarin
Dalam kehidupan,
Dan, tangisan telah meredupkan keindahan
Matamu yang berbinar.
Kesedihan telah mengeringkan setangkup bibir
Yang dibasahi oleh ciumanmu.
Dan, jalan setapak serta lerengan yang kita tempuh
Dengan tangan bergangengan
Saat kita saling menyandarkan kepala
Seolah melindungi diri kita dibawah diri kita
Sendiri ?
Ingatkah kau saat aku datang mengucapkan
Selamat jalan ?
Kau merangkul diriku dan menciumku dengan
Ciuman kasih.
Dan, aku mengerti bahwa bibir yang berciuman
Mengucapkan rahasia akan cinta yang tak terpahamkan
Oleh lidah.
Kini aku mencapai puncak dengan sayap-sayap yang telah
terkembang,
Membawa serta jiwa membumbung bersama sejuta kenangan dan
asa -asa yang tak tersampaikan.
Meninggalkan mimpi, kemistriusan dan rahsia cinta yang tinggal sebagai bayangan indah di masa lampau seperti titik embun yang
menguap seiring dengan hadirnya fajar.
Terima kasih telah menyingkap mendung, memberiku gemerlap
bintang dan rembulan yang lembut menepis kegelapan
kegelapan malamku,
Dan menjadikannya sebagai syahdu yang penuh arti
-- Yuditha Fabiola, 23 Desember 2003
Listed below are links to weblogs that reference this entry. Were you wish to trackback this entry, just copy and paste the URL below to your blog posting.
Otherwise, if you wish to add a comment to this entry, please click new comment.
Listed below are comments from my friends regarding to this entry. If you wish, you may also add a comment by clicking new comment.
Post a comment


Thanks
» Posted by: Sarah S at November 6, 2004 01:12 PM