Puisi ini sebenarnya bukan buatan saya, saya menaruhnya di sini cuman sebagai bahan renungan diri aja. Buat saya secara pribadi ia sangat menyentuh, sebab selama ini memang saya terlalu banyak asyik dengan urusan yang jauh dari hal-hal diajarkan. Kadang ya menyerempet bahaya, menyakiti hati wanita, kadang ya seperti melawan dari takdir. Kadang terpuruk, dan kadang sombong.
Kalau saja ada yang tau siapa saya dulu barangkali bakal berpikir sinis tentang layout yang berbunga seolah memiliki perasaan yang halus, ndak... masa lalu saya kelam, hitam, mawar itu adalah mawar berduri.... Mudah-mudahan ia akan selalu mengingatkan saya ada hal yang lebih penting harus dikerjakan hari ini dan esok.
Dalam 7 Hari Yang Telah Lalu Dan Mungkin Akan Terulang
Hari per-1, tahajudku tetinggal Dan aku begitu sibuk akan duniaku Hingga zuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan azan magrib Dengan niat kulakukan bersama isya itupun terlaksana setelah acara tv selesaiHari ke-2, tahajudku tertinggal lagi
Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertamaHari ke-3 aku lalai lagi akan tahujudku
Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dr 200 hlmn
Dalam waktu tidak 1 hari aku telah selesai membacanya
Tapi... enggan sekali aku membaca Al-qur'an walau cuma 1 juzz
Al-qur'an yg 114 surat, hanya 1,2 surat yang kuhapal itupun dengan terbata-bata
Tapi... ketika temanku bertanya ttg novel tadi betapa mudah dan lancarnya aku menceritakanHari ke-4 kembali aku lalai lagi akan tahajudku
Sorenya aku datang keseletan Jakarta dengan niat mengaji
Tapi kubiarkan ustazdku yang sedang mengajarkan kebaikan
Kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan lebih luas tentang agamaku
Aku lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman yg ada disampig kiri & kananku
Padahal bada magrib tadi betapa sulitnya aku merangkai
Kata-kata untuk kupanjatkan saat berdoaHari ke-5 kembali aku lupa akan tahajudku
Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh saat imam sholat jum'at kelamaan bacaannya
Padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan betapa nikmat,
serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam
Hari ke-6 aku semakin lupa akan tahajudku
Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman2ku
Demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar
Aku lupa.. waktu diperempatan lampu merah tadi
Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku
Hanya uang dua ratus rupiah kuberikan itupun tanpa menolehHari ke-7 bukan hanya tahajudku tapi shubuhkupun tertinggal
Aku bermalas2an ditempat tidurku menghabiskan waktuSelang beberapa saat dihari ke-7 itu juga
Aku tersentak kaget mendengar khabar temanku kini
Telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya
& sepertiga malam tadi dia dengan misscallnya mengingat aku ttg tahajud
kematian kenapa aku baru gemetar mendengarnya?
Padahal dari dulu sayap2nya selalu mengelilingiku dan
Dia bisa hinggap kapanpun dia mauSeperempat abad lebih aku lalai....
Dari hari ke hari, bulan dan tahun
Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunah
Kurang mensyukuri walaupun KAU tak pernah meminta
Berkata kuno akan nasehat ke-2 orang tuaku
Padahal keringat & airmatanya telah terlanjur menetes demi akuTuhan andai ini merupakan satu titik hidayah
Walaupun imanku belum seujung kuku hitam
Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa
Tahajud dan sholatku meninggalkan bekas
Saat aku melipat sajadahku.....
Amin....
Listed below are links to weblogs that reference this entry. Were you wish to trackback this entry, just copy and paste the URL below to your blog posting.
Otherwise, if you wish to add a comment to this entry, please click new comment.
Listed below are comments from my friends regarding to this entry. If you wish, you may also add a comment by clicking new comment.
Post a comment


ini puisi apa nyindir?...
» Posted by: dhipa at April 28, 2004 08:50 AMtapi bagus kok...
memaparka hal yang sama yang kita rasakan...
setidaknya dapat mengingatkan kita utk 5 waktu berkomunikasi denganNya