Ini adalah kutipan sebuah postingan milis yang saya ikuti dan oleh seseorang yang namanya sebenarnya cukup dikenal dalam komunitas itu secara penguasaan ilmu pada bidangnya.
Kadang ya capek ngebaca postingan seperti ini, secara pribadi sih kalau emang menulis hal yang bagus dan objektif kenapa sih kita ndak bisa lapang dada menerimanya sebagai bahan evaluasi. Kenapa kalau ada satu tulisan yang sekiranya menyudutkan satu pihak tertentu jadi seperti budaya kita untuk langsung mencari hal-hal untuk menepisnya, bahkan sampai pada sisi yang sebenarnya sama sekali ndak ada sangkut paut dengan materi yang ditulisnya.
Apa salah kalau anak bajingan bicara soal shalat, mengagungkan Tuhan seperti layaknya seorang kiyai atau pendeta agung? Lha kalau memang isi materinya benar ya kenapa ndak menerima, bukan malah mencari-cari apa latar belakangnya karena sudah berani ngomong seperti itu. Apa bisa memastikan air yang ada dalam gelas itu rasanya pasti masam hanya karena gelas itu berwarna kuning oranye?
Padahal dah banyak banget kenyataan yang musti kita terima bahwa latar belakang ndak menentukan kualitas orang. Kalau bicara soal teknologi, ndak usah lah jauh-jauh dengan apa yg terjadi di luar sana. Sisi KPU sendiri yang sebenarnya jadi topik dalam postingan itu yang orang-orangnya punya nama dan latar belakang yang mentereng, ya nyatanya tetep bisa dikibuli oleh mahasiswa yang kuliahnya justru ndak ada kaitannya dengan ilmu komputer. Apa masih belum cukup-cukup jadi pelajaran kita untuk ndak memandang usul/argumen seseorang atas dasar latar belakang itu?
**sigh... :-(
Listed below are links to weblogs that reference this entry. Were you wish to trackback this entry, just copy and paste the URL below to your blog posting.
Otherwise, if you wish to add a comment to this entry, please click new comment.
» HTML client (thin) vs Rich client (thick)
Web based? HTML client? Thin client? Ya sama saja lah. Perhelatan ini tidak kunjung selesai diantara para application developer. Kita harus bijak dalam penerapan teknologi dan tidak hanya memakai karena lebih mudah saja. Kalau menurut saya penggunaan W... [Read More]
From Java and web tech scraps, on June 18, 2004 12:32 AM
Listed below are comments from my friends regarding to this entry. If you wish, you may also add a comment by clicking new comment.
Post a comment


wah loe kalo nge blog koq kata2nya hebat amat sih hehe kaya nulis artikel beneran hehe.. eh iya KPU apaan yak? maksudnya ini lagi ngomongin diskriminasi kah? huehehe *agak-agak bolot baca ini..*
» Posted by: sista at May 31, 2004 03:09 PM
test test.. kok gak bisa nulis comment ya.. maximum berapa charaters sih? ;)
» Posted by: geekgirl at May 31, 2004 03:21 PMkalo orang itu emang capable yah di terima ajalah ngapain pake cari2 latar belakangnya
bt kalo ketemu orang yang kosong tp pengen dianggep berisi....
» Posted by: cancerio at May 31, 2004 05:35 PMemang ada aja manusia yang gaQ bisa terima kaya gituan ^^;.. sometimes.. i wonder also.. *why*
but yah.. mungkin karna tiap individu beda² juga kali yah... [hauhauha... ntar disambung2 jadi makin panjang lagih neh] hihi ^^
» Posted by: -inex- at May 31, 2004 07:38 PM
I absolutely agree with u! Aku juga sering banget dianggap sebelah mata in my office... bahkan oleh orang2 yg sebenarnya 'kosong'. Padahal tidak ada satu halpun yg mereka bisa tetapi aku tidak bahkan malah kebalikannya... hanya aku tidak pernah bersuara keras seperti mereka. Prinsip banyak kerja daripada bicara mungkin tidak mereka kenal. btw..... aku kok agak 'gimana' gitu tentang perbandingan heri sutadi dgn bajingan yg ngomongin Tuhan.... it's a different case, isn't it?
» Posted by: arnoffee at June 1, 2004 03:44 AM
..itu jeleknya sifat orang yang suka sirik alias nyinyir bang.. en masih banyak orang2 yang kaya gitu.. jadi.. berlapang dada perlu banget.. be patient..!!
» Posted by: alid at June 1, 2004 01:06 PMSaya tidak sepenuhnya setuju dengan anda.
Terkadang contoh kutipan untuk 'sdr. Heri Sutadi' bukan dimaksud untuk menghantam 'HeriSutadi' atau 'tidak ada hubungannya', tapi adalah bentuk cara untuk mengatakan: 'HeriSutadi' memiliki 'logika berpikir yang salah'. Jika sampai ada yang memposting hal ini, sangat mungkin debat yang melibatkan 'HeriSutadi' sudah seperti 'debatkusir' yang tidak tertolong lagi :p.
Dalam suatu milis, jika anda amati memang sering posting semacam tersebut muncul. Tapi mari kita lihat dulu sebabnya. Pengalaman saya mengikuti beberapa milis, hampir bisa dipastikan bahwa si 'HeriSutadi' dalam suatu perdebatan terus menerus tidak dapat diajak untuk 'berpikir logis'(dalam bahasa jawa:'nylamur').
Memang dalam suatu milis, hantam-menghantam adalah hal yang biasa. Seseorang dalam suatu milis menjadi dihormati BUKAN karena latar belakangnya, tapi dari logika berpikirnya. Kalau masalah pengetahuan, semua orang dapat mencarinya... buka buku/lookup .. selesai... Tapi logika berpikir sangat sulit untuk didapat. bahkan sampai kuliahpun banyak mahasiswa yang tidak memiliki logika berpikir yang benar. Jadi baku-hantam memang harus terjadi dalam suatu milis. Barangsiapa yang dapat mempertahankan pendapatnya berarti memang teruji 'logika berpikirnya'.
Jadi sebagai seseorang yang 'berani' mengungkapkan latar belakang pendidikan formalnya, tentu akan sangat malu untuk ber-'debatkusir'. Dia pasti akan selalu berusaha berdialog sebagai seseorang yang terpelajar dan mengakui kesalahan. Sebaliknya seseorang yang memang telah menempuh pendidikan formal yang cukup tinggi terkadang 'malu' untuk mengungkapkan latar belakang pendidikan formalnya, karena memang memiliki hobi untuk 'debat-kusir'.
Pengungkapan latar belakang praktek maupun pendidikan formal bukan dimaksudkan untuk 'gagah-gagahan'. Tapi sebagai masyarakat informasi yang bertanggung-jawab, seharusnya sadar bahwa informasi yang kita dapatkan dari internet tidak ada yang menjamin kebenarannya.
Akhir kata, pendidikan formal memang bukan sarana mendapatkan pengetahuan. Tapi hanya salah satu upaya untuk mendapatkan latihan cara berpikir yang logis dan sistematis.
Semoga dapat menjadikan bahan pertimbangan. Terimakasih.
» Posted by: Vanya at June 1, 2004 01:35 PM------------------------------------------
Note: Mengapa tokoh 'Heri-Sutadi' tidak mengaku saja sebagai 'lulusan-Sekolah Dasar'? Kan malah jelas pendidikannya, jadi tidak mungkin ada posting seperti kutipan diatas. :)
umm.. mungkin sebagai informasi, awal debat tersebut berasal dari tulisan di media cetak:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0404/30/opini/998331.htm
dan soal latar belakang ini, ya untung aja subjek juga punya latar belakang yg cukup jelas:
http://groups.or.id/pipermail/genetika/2003-November/000594.html
hanya saja di satu sisi, lepas dari itu semua apa latar belakang ini menentukan validitas ataupun bobot atas materi yg disampaikannya? kalau memang metodologi kita seperti itu kayaknya sih selamanya kita bakalan dikibuli abis-abisan sama mereka yg sengaja nyembunyiin latar belakang ini, atau bahkan memang ndak jelas, cuman berbekal pengetahuan 'n kecerdasan atas bidang itu. :-)
just my 2 cents,
» Posted by: jaim at June 1, 2004 03:02 PM
Background pendidikan emg bs menentukan capabilitas seseorg dlm bdg yg ditekuninya, tetapi rasanya termasuk dangkal jg jika org yg mampu memberi pandangan yg make sense dan emg bener diserang dgn cara menyinggung latar belakangnya. Byk org yg malahan lbh hebat pdhal belajar scr otodidak, yaa sperti mahasiswa pembobol situs kpu itu. Tp yg jelas, kalo seorg bajingan bcr tentang Tuhan, siapa yg mau dgr ato percaya? Dia aja ga bener kok? Gitu kan logikanya?
» Posted by: L3L1 at June 1, 2004 03:29 PM