Saat-saat manis itu justru dimulai dari keadaan kacau balau yang terjadi hampir setiap hari di boulevard, lingkungan gelanggang mahasiswa UGM. Demonstrasi dilakukan bahkan hampir setiap hari dan dapat dipastikan berakhir dengan kerusuhan seiring dengan bergeraknya aparat yang sebelumnya membuat pagar betis menembakkan gas air mata atau bahkan dengan tank yang menyemburkan air untuk membubarkan ribuan massa yang berkerumun di sana.
Ironisnya, di tengah kondisi demikian, kami tetap melakukan latihan seperti biasa. Baik aku dan rekan-rekan yang saat itu sebagai pelatih, para pengurus, ataupun unit kegiatan mahasiswa lainnya, bahkan senat mahasiswa pun sama-sama memiliki idealisme bahwa aktifitas gelanggang yang merupakan urat nadi lingkungan itu harus tetap berjalan meski di tengah kondisi bergejolak yang terjadi hampir setiap harinya.
Konsekuensi atas hal itu tentu saja kami harus senantiasa berpegangan tangan, bahu-membahu satu dengan lainnya, menjaga koordinasi agar semua tetap dapat berjalan senormal mungkin dalam kondisi seperti itu. Seringkali mereka-mereka ikut membantu menjaga sampai sessi latihan kami berakhir, dan kami pun sering pula ikut membantu mengkoordinasikan agar demonstrasi tetap berjalan sesuai dengan alur yang diharapkan.
Satu demi satu sahabat menghilang tak jelas rimbanya. Diantara rasa takut, kemarahan, dan tekad membuat semua berpikir bahwa hal ini harus dilakukan secara luas dan semakin luas. Dan itulah saat di mana kami sudah tidak lagi hanya menggunakan jaket unit kegiatan mahasiswa, melainkan ikut pula menurunkan jas almamater yang sebelumnya hanya tergantung dalam lemari untuk ikut membantu melakukan hal yang lebih besar secara serius. Sementara the show must go on life goes on, latihan harus tetap berjalan, dan setiap kali itu pula kami harus menyembunyikan diri bahwa kami hanyalah seorang pelatih di depan para anggota yang latihan saat itu, hanya untuk satu tujuan agar mereka tidak ikut terlalu jauh dalam arus demonstrasi sehingga keselamatan mereka dapat lebih mudah terjaga.
Dalam hal seperti itu, adalah tanggungjawab semua untuk bisa memastikan bahwa mereka yang telah datang ke gelanggang untuk latihan, bisa tetap pulang dengan selamat sampai di rumah. sebab itulah saat latihan usai, semua pelatih dan pengurus harus mengantarkan anggota hingga tiba sampai di rumah masing-masing. Dan justru di saat-saat seperti itulah aku mulai mengenalnya secara lebih dekat, dan saat kusadari, cinta yang bertahun-tahun hilang itu tumbuh membesar.
Namun amarah itu menjadi meluap ketika kami berhasil menangkap seorang provokator yang melemparkan batu ke arah para aparat yang setelah digeledah ternyata adalah anggota aparat sendiri. Gambaran atas begitu banyak sahabat yang harus terbaring di rumah sakit, ataupun mereka-mereka yang menggigil ketakutan ketika kamar kost mereka didobrak oleh aparat yang mengejar masuk hingga ke pemukiman penduduk, atau mereka-mereka yang kepalanya bocor dilempari batu oleh aparat ketika dengan sangat terpaksa harus bersembunyi dalam sumur.
Kami masih sangat muda saat itu, jiwa muda kami tak bisa menerima perlakuan demikian dan membuat terlupa akan batasan-batasan yang seharusnya dipegang teguh. Dan ketika tersadar, kami harus malu menyadari bahwa kami tidaklah beda dengan mereka-mereka yang melakukan semua kekerasan itu. Dan lebih tertunduk lagi ketika membaca tulisan seorang ibu bahwa tidak semua orang bisa melakukan hal-hal sesuai dengan hati nuraninya. Sebagai ibu dari seorang abdi negara, hati nurani mendukung penuh atas apa yang dilakukan para mahasiswa, dan begitu pula sang anak yang dikasihinya. Namun sumpah setia pada negara dan tugas yang diberikan seringkali mengharuskan untuk melakukan hal-hal meskipun yang bertentangan dengan hati nurani. Kami menangis mengetahui bahwa yang dilukai adalah mereka-mereka yang juga harus diperjuangkan.
Namun bagaimanapun roda itu harus tetap bergulir. Pengalaman-pengalaman membuat semua tersadar bahwa gelora di daerah tidak cukup untuk membuat satu perubahan, pergerakan dan perjuangan harus terus berlanjut hingga ke pusat di mana pemerintahan yang sebenarnya itu ada. Berangkatlah para sahabat menuju jakarta, mengucap salam, berangkulan, menitikkan air mata atas semua perjuangan yang telah dilalui selama itu, dan berdoa bersama akan gelora perubahan yang harus tetap dikibarkan. sayup sayup terdengar hymne itu..
...
bakti kami mahasiswa gadjah mada semua....
ku berjanji memenuhi panggilan bangsaku..
di dalam pancasila mu jiwa seluruh nusaku...
......
Sementara aku harus tetap di sini, karena tanggung jawab akan roda aktivitas yang harus terus berjalan, harus terus bergulir meski dihantam bebatuan dan cadas batu karang. Hingga saat semua itu berakhir, dan saat aku meninggalkan gelanggang mahasiswa, tak pernah lagi aku bertemu dengan para sahabat itu, pun aku tak lagi tahu di mana mereka.
Listed below are links to weblogs that reference this entry. Were you wish to trackback this entry, just copy and paste the URL below to your blog posting.
Otherwise, if you wish to add a comment to this entry, please click new comment.
Listed below are comments from my friends regarding to this entry. If you wish, you may also add a comment by clicking new comment.
Post a comment


*hm koq jadi inget pelm titanic yahhh*
hihih :P
» Posted by: arb3i at June 4, 2004 01:09 AM
eh jadi lagi banyak demo ya?
» Posted by: sista at June 4, 2004 09:59 AM
anjing menggonggong kafilah berlalu.. *memperkuat idea-nya si arb3i*.. cool!
» Posted by: alid at June 4, 2004 12:39 PM
apapun yg terjadi, terjadilah. filsafat air mengalir?
» Posted by: maknyak at June 5, 2004 12:14 AM
percuma .. banyak aktifis yang saat masih kere koarČ sana sini saat udah jadi orang ya korupsi .. dlsb dlsb .. contoh : akbar tanjung, ridwan hisyam mantan aktifis khan ... hahaks .. wes gak usah neko neko mending bubuk meyeng ae nang kasur .. .asiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkkkkkk
» Posted by: loper at June 5, 2004 09:37 AM
kalo lagi ada demo, kayaknya pengeeeen banget ngikut. temen temen bilang :"ada aksi di bunderan". tapi setiap demo kok hasilnya pasti GAK ADA !!! kita cuman dapet capek thok. jadi ngapain seharian tereak tereak di bunderan kalo dari semula dah tau kalo bakalan gak ada hasilnya. contohnya aja (masih soal) BOP. demoooo terus, tapi ternanyata sekarang malah berkembang jadi SPA. mumettt
» Posted by: feylaila at June 5, 2004 03:02 PMAyo berjuang terus, tidak usah merisaukan akan berhasil atau tidak, karena yang berharga adalah perjuangannya itu sendiri. Begitu pula jangan sedih seandainya terdapat bagian yang melenceng, justru bagian kita untuk meluruskannya.
:)
» Posted by: amal at June 6, 2004 04:02 AM