Buah petai, saya yakin tidak ada diantara kita yang ndak mengenalnya, buah yang menyebabkan bau mulut dan aroma air seni yang tidak sedap. Memang dibalik semua itu buah satu ini diketahui memiliki nilai guna atas kandungan sukrosa, fruktosa dan glukosa yang katanya sih mampu memberikan dorongan tenaga instan yang bisa bertahan cukup lama dan cukup besar efeknya. Saya juga dengar sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa buah ini berkhasiat mencegah bahkan mengatasi beberapa macam penyakit dan kondisi buruk dalam kesehatan sehari-hari. Namun bukan ini yang hendak saya ulas, adalah pandangan para penggemar buah ini di sebuah milis bahwa mereka-mereka yang tidak suka memakannya semata-mata karena "malu-malu-mau" membuat saya agak jengah mendengarnya.
Tapi saya setuju bahwa informasi ini dapat membantu para petani petai agar kaum intelektual yang malu makan petai jadi mulai mencoba dan menikmati sayuran khas Indonesia yang mempunyai rasa yang unik dan lezat ini.
--- source: hidden --
Sebenarnya bukan sama sekali saya tidak suka dengan buah ini, sebagai orang yang berasal dari tanah sunda sudah pasti saya sangat mengenal dan akrab dengan buah satu ini. Namun potensinya yang bisa membuat orang lain merasa terganggu itu lah yang tidak saya sukai, sebagaimana hal-nya saya pun merasa terganggu jika mencium aroma yang ditimbulkan oleh mereka-mereka yang baru saja mengkonsumsi buah ini. Sama halnya dengan durian di Singapura pun, pemerintah melarang buah durian dibawa-bawa secara terbuka dalam angkutan-angkutan umum bukan karena merasa malu terhadap rakyatnya yang doyan durian, melainkan karena aroma buah ini yang bisa mengganggu publik secara umum yang ada di sekitarnya.
Di sisi lain, secara pribadi menurut saya adalah hal yang baik jika masyarakat kita mulai membudayakan untuk memupuk kesadaran dan rasa malu atas tindakan yang bisa menyebabkan orang lain merasa terganggu. Makan petai mungkin nikmat bagi mereka yang menyukainya, tapi alangkah baiknya jika sebelum itu pikirkan lebih dulu pengaruhnya terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya, dan cara untuk meminimalisir pengaruh buruk tersebut. Jika memang tidak ada cara, maka akan lebih baik untuk tidak mengkonsumsinya saat memang akan beraktifitas di lingkungan yang melibatkan banyak orang (eg. kantor).
Dari situ saya sama sekali ndak setuju dengan pendapat bahwa orang tidak mau makan petai hanya karena malu-malu-mau, pandangan yang ndak tepat dan keliru karena sebenarnya bisa jadi mereka yang tidak mau itu adalah mereka yang mau berempati dengan orang lain karena akibat yang ditimbulkan dari aroma buah ini setelah dikonsumsi yang bisa membuat orang lain merasa terganggu.
Listed below are links to weblogs that reference this entry. Were you wish to trackback this entry, just copy and paste the URL below to your blog posting.
Otherwise, if you wish to add a comment to this entry, please click new comment.
Listed below are comments from my friends regarding to this entry. If you wish, you may also add a comment by clicking new comment.
Post a comment


benar banget tulisan di paragraph terakhir. merdeka !.. hihihi..
» Posted by: sa at February 2, 2005 03:24 PM
biar gak bau petai, setelah makan petai baiknya makan jengkol atau duren :-)
» Posted by: pak toni at February 10, 2005 09:00 PM