Memiliki rumah idaman memang benar-benar seperti mentukan pasangan hidup, banyak sekali aspek yang harus dipertimbangkan. Seperti kata teman-teman, rumah itu bukan hanya sekedar tempat berteduh, tapi di sanalah tempat kita mendapatkan kebahagiaan hidup, karena itu harus dipikir secara mendalam karena efeknya adalah secara jangka panjang. Selama hampir satu tahun lamanya saya mengevaluasi berbagai kemungkinan untuk itu, entah itu kemungkinan untuk membangunnya sendiri secara bertahap, atau mengambil perumahan. Ada berbagai argumentasi dan masukan-masukan yang berharga yang saya dapatkan untuk itu.
Alasan biaya yang lebih efisien adalah alasan umum yang saya dapatkan dari teman yang menyarankan untuk membangunnya sendiri, sementara alasan lingkungan yang secara relatif lebih baik adalah argumentasi dari yang menyarankan untuk mengambil perumahan. Kedua-duanya sangatlah layak dipertimbangkan karena bagaimanapun, keterbatasan kemampuan untuk menyediakan anggaran adalah hal yang penting untuk dipertimbangkan agar jangan sampai nantinya kita yang terpontal-pontal karena kebutuhan dana yang melebihi kemampuan kita untuk menyediakannya. Sementara di sisi lain, lingkungan yang relatif lebih baik dan terjamin itu umumnya sulit untuk didapatkan begitu saja. Jangan sampai kita tinggal di lingkungan dimana kesenjangan sosial antara keluarga satu dengan yang lainnya terlalu jauh sehingga mempengaruhi hubungan kemasyarakatan di lingkungan itu. Keamanan lingkungan juga hal yang penting untuk dipertimbangkan, akan percuma kalau kita mendapatkan rumah yang nyaman, sesuai dengan keinginan kita kalau ternyata lingkungan di tempat tinggal kita ternyata tidak aman, setiap harinya akan menyisakan perasaan yang tidak tenang saat kita meninggalkan rumah. Lingkungan juga sangat penting dalam membentuk pola pendidikan anak nantinya (jika kelak sudah memiliki anak) karena bagaimanapun nantinya anak-anak pun akan berbaur dengan lingkungannya, lingkungan yang baik tentunya akan ikut mendorong anak untuk menjadi baik pula (mudah-mudahan), begitu pula sebaliknya.
Sudah lama sekali saya mendengar, atau mungkin lebih tepatnya membaca (hanya saja saya lupa sumbernya dari mana) bahwa memperdengarkan musik bagi anak-anak sejak dini dapat menstimulasi kreativitas, kecerdasan, dan perkembangan otak anak. Seorang rekan yang memang berprofesi sebagai musisi pernah menyarankan saya bahwa sebaiknya hal ini dilakukan bahkan sejak bayi masih dalam kandungan, karena meski masih dalam kandungan, sejak usia 10-12 minggu ke atas, janin telah dapat mendengar dan memberikan reaksi terhadap suara-suara yang didengarnya.
My name is
Perhatian: Informasi yang terdapat disini bener-bener hanya merepresentasikan cerita, pengalaman, ataupun pandangan yang merupakan opini pribadi dari saya sebagai ego. Segala hal yang bersifat pandangan ke depan sebenarnya lebih bersifat spekulatif dan bisa saja berobah meski saya bukan bunglon.