J.a.i.m’s Diary

Interfacing Delphi dan Java

Java sebagai bahasa pemrograman aplikasi bisnis enterprise menawarkan begitu banyak ragam alternatif solusi yang beberapa di antaranya sudah mencapai taraf kematangan yang cukup baik terutama untuk kebutuhan aplikasi berbasis multi-tier, sebut saja TopLink yang saat ini menjadi standar persistent API di java, kemudian Spring, Atomikos, dan begitu banyak lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu dalam blog ini. Java juga menarik digunakan sebagai sarana pemasaran karena plethoria-nya yang begitu luas. Sementara itu Delphi, khususnya untuk digunakan sebagai bahasa pemrograman untuk middleware belum memiliki ragam pilihan seperti yang terdapat di Java, namun demikian, karena sifatnya sebagai native code, Delphi memungkinkan kita membuat middleware server yang memiliki performa dan stabilitas yang mengungguli middleware sejenis yang dibuat dengan menggunakan Java.

Ragam solusi yang terdapat di java sangat menarik dan terlalu sayang untuk tidak dimanfaatkan, namun permasalahannya, bagaimana jika kita sudah memiliki sebuah middleware server yang dibangun dengan delphi? Memportingnya ke java jelas bukanlah sebuah solusi yang mudah karena itu bisa berarti menulis ulang keseluruhan sistem dari awal. Solusi yang paling memungkinkan tentunya adalah menginterfacekan middleware server yang dibuat dengan delphi tersebut dengn Java, dengan kata lain meng-embbed java virtual machine ke dalam middleware server Delphi sehingga memungkinkan kita memanfaatkan java dalam sistem yang kita buat dengan menggunakan Delphi.
(more…)

Jython 2.5 alpha dirilis

Berita pagi ini juga cukup menarik, kabar terbaru yang saya dapatkan Jython merilis versi alpha atas python language yang kompatible dengan CPython 2.5. Meski masih dalam taraf alpha, namun rilis ini menarik untuk dieksplorasi sejauh mana kompatibilitas bahasa yang ditawarkan Jython yang tentunya pula akan berdampak pada besar kecilnya probabilitas Jython untuk dapat diintegrasikan dengan library-library yang menggunakan CPython sebagai basis seperti SQLAlchemy, dll.

Seberapa begitu menarikkah Jython ini dibanding CPython? Perlu diketahui, CPython saat ini memiliki kelemahan jika digunakan dalam mesin-mesin berbasis multi-core karena keberadaan GIL membuatnya secara internal hanya satu thread yang aktif dieksekusi (meski sebenarnya ada beberapa thread yang berjalan bersamaan), akibatnya tentu saja hanya 1 CPU yang bisa termanfaatkan. Sebenarnya hal ini bisa sedikit banyak diminimalisir dengan memporting kode-kode yang bersifat kritikal ke dalam extenstion module yang dibuat dengan native language, namun besar kecilnya manfaat sangat bergantung pada bagaimana model kerja kode dalam python yang dieksekusi, begitu juga dengan membuat process instance, dan beberapa solusi lainnya. Saya tidak ingin panjang lebar membahas lebih jauh tentang ini, Guido punya alasan yang kuat dan benar yang mendasari kenapa GIL tetap harus dipertahankan setidaknya di Python300 nanti.

(more…)

 

About Me

Jaimy Azle My name is
Jaimy Azle, hufflepuff, I am a software developer with Delphi and C/C++ as major programming language. Living in Ungaran, Jawa Tengah.

Search

Categories:

Tag Cloud

Friends

Interests

Archives:

Meta:


Get Firefox!
Perhatian: Informasi yang terdapat disini bener-bener hanya merepresentasikan cerita, pengalaman, ataupun pandangan yang merupakan opini pribadi dari saya sebagai ego. Segala hal yang bersifat pandangan ke depan sebenarnya lebih bersifat spekulatif dan bisa saja berobah meski saya bukan bunglon.