Salah satu yang tidak saya sukai dari kebiasaan hidup orang semarang adalah mereka umumnya suka sekali membuang tikus ke jalan. Yang saya tenggarai di sini tikus tersebut bukanlah tikus korban tabrak lari, melainkan tikus-tikus yang entah mati karena perangkap, ditembak (orang semarang terkadang lebih suka berburu tikus dgn senapan angin ketimbang burung), atau tikus-tikus yang sengaja diracun. Sepertinya ketimbang membuangnya di tempat lain atau menguburnya, warga lebih suka melemparnya ke jalan.
Salah satu alasan yang sering saya dengar adalah, tikus yang dibuang di jalan akan hancur digilas oleh kendaraan yang lewat, mengering diterpa panasnya matahari dan aspal jalan, dan tidak menimbulkan bau menyengat yang mengganggu warga sekitar. Selintas sepertinya itu adalah cara praktis dan efektif.
Permasalahannya apakah setelah itu selesai begitu saja? Bangkai tikus yang mengering dan hancur itu meski tidak menimbulkan bau tapi menimbulkan permasalahan baru, serpihan bangkai tikus yang mengering itu akan terbang diterpa angin, menyebar ke lingkungan sekitar, dan pada akhirnya dihirup oleh warga sekitar, sehingga berpotensi menjadi media penyebaran penyakit. Selain itu pula bangkai tikus di jalan sungguh mengganggu pemandangan para pengendara yang lewat, merusak keindahan lingkungan, coba banyangin, lingkungan udah bagus, tertata rapi, dan bersih, dikotori oleh seonggok bangkai tikus di tengah jalan. :(
Sudah lama sekali saya mendengar, atau mungkin lebih tepatnya membaca (hanya saja saya lupa sumbernya dari mana) bahwa memperdengarkan musik bagi anak-anak sejak dini dapat menstimulasi kreativitas, kecerdasan, dan perkembangan otak anak. Seorang rekan yang memang berprofesi sebagai musisi pernah menyarankan saya bahwa sebaiknya hal ini dilakukan bahkan sejak bayi masih dalam kandungan, karena meski masih dalam kandungan, sejak usia 10-12 minggu ke atas, janin telah dapat mendengar dan memberikan reaksi terhadap suara-suara yang didengarnya.
My name is
Perhatian: Informasi yang terdapat disini bener-bener hanya merepresentasikan cerita, pengalaman, ataupun pandangan yang merupakan opini pribadi dari saya sebagai ego. Segala hal yang bersifat pandangan ke depan sebenarnya lebih bersifat spekulatif dan bisa saja berobah meski saya bukan bunglon.